ASOHI KEMBALI SUKSES GELAR SEMINAR OUTLOOK BISNIS PETERNAKAN PDF Print E-mail
Written by sekretariat   
Wednesday, 20 November 2019 17:02
JAKARTA, Rabu 20 November 2019. Bertempat di Menara 165 Jakarta, Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), kembali menggelar acara rutin tahunannya yakni Seminar Nasional Outlook Bisnis Peternakan bertajuk “Bisnis Peternakan di Era Pemerintahan Jokowi Periode Kedua”.
Seminar ini merupakan seminar outlook bisnis peternakan yang merupakan agenda tahunan ASOHI dimana pesertanya adalah semua stakeholder peternakan baik dari perusahaan obat hewan, pakan, pembibitan, pelaku usaha budidaya peternakan serta utusan pemerintah dan perguruan tinggi.
 
Dalam laporannya Drh Andi Wijanarko selaku Ketua Panitia menyebutkan, tahun 2019 merupakan tahun politik yang ditandai dengan Pemilu untuk memilih Presiden, DPR, DPRD dan DPD. Perubahan kabinet, perubahan anggota DPR, DPRD, DPD  diperkirakan akan berdampak pada dinamika kebijakan yang selanjutnya mempengaruhi perkembangan ekonomi masyarakat termasuk bidang peternakan.
 
Memasuki Pemerintahan Presiden Jokowi periode kedua di tahun 2019 ini, masyarakat peternakan berharap kebijakan pemerintah makin kondusif untuk pelaku usaha peternakan.  Sementara itu situasi ekonomi global di tahun 2020 diperkirakan mengalami penurunan. United Nations Conference On Trade and Development (UNCTAD) dalam laporannya baru-baru ini memberi peringatan bahwa resesi global bisa terjadi di tahun 2020.
 
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Umum ASOHI, Drh Irawati Fari. Menurutnya, dengan pemerintahan yang baru ini tentunya banyak harapan yang disampaikan pelaku bisnis peternakan.
 
"Namun sebagai pelaku usaha kita juga harus siap dengan berbagai kebijakan baru. Kita juga perlu melihat bagaimana kondisi ekonomi global dan nasional agar kita lebih siap dalam menghadapi tahun-tahun yang akan datang," ujar Ira.
Karena ke depannya, kata Ira, akan muncul banyak pertanyaan terkait kebijakan pemerintah, misalnya tentang impor daging kerbau, program swasembada daging sapi, swasembada jagung, program alih teknologi dan sebagainya.
 
"Kami harap lewat seminar ini kita dapat merekam opini dari masyarakat yang diwakili asosiasi yang nantinya akan kita sampaikan kepada pemerintah. Kami juga usulkan para pimpinan asosiasi nantinya dapat bersama-sama bertemu dengan Menteri Pertanian untuk menyampaikan hasil seminar ini dan mendiskusikan hal terkait lainnya," tandasnya.
 
Dalam kegiatan tersebut, ASOHI turut mengundang Kepala UPT Pusat Pelayanan Hewan dan Peternakan Dinas KPKP DKI Jakarta, Drh Renova Ida Siahaan, mewakili Gubernur DKI Jakarta, kemudian Kasubdit POH, Drh Ni Made Ria Isriyanthi mewakili Dirjen PKH, dan secara khusus mengundang pakar ekonomi Prof Dr Didiek J. Rachbini, serta sederet pimpinan asosiasi sebagai narasumber seminar, diantaranya ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Pinsar Indonesia, Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI) dan ASOHI, serta tahun ini juga khusus mengundang ketua Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI), yang masing-masing membahas prospek dan tantangan industri peternakan. Bertindak sebagai moderator Drh Haryono Djatmiko pada sesi I dan Ir Teddy Candinegara pada sesi II.  

Ancaman Resesi Global 
Menurut Prof Didiek J Rachbini pertumbuhan ekonomi Indonesia telah melambat dan semakin melemah seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi global. Bahkan jika terjadi resesi global Indonesia akan terkena dampak yang paling buruk. Pertumbuhan GDP Indonesia akan terus menurun karena lemahnya produktivitas dan melambatnya pertumbuhan lapangan kerja. Dan sekali lagi melambatnya pertumbuhan ekonomi secara global akan menyebabkan semakin rendahnya harga komoditas yang akan semakin memperburuk angka pertumbuhan GDP Indonesia. 
 
Untuk mencegah ini Indonesia perlu meningkatkan angka investasi langsung dari luar negeri sehingga membuka aliran modal dan lapangan kerja. Caranya dengan menyederhanakan aturan, birokrasi dan menjaga stabilitas politik, hukum, dan keamanan. Dengan begitu investor yang sebelumnya lebih banyak menanamkan modalnya di Kamboja, Vietnam dan Malaysia dapat beralih ke Indonesia. 
 
Meskipun dirundung ancaman resesi global, berbagai analis dan pelaku usaha jasa keuangan tetap optimis bahwa pertumbuhan ekonomi akan tetap tumbuh. Seperti misalnya pemerintah yang menargetkan pertumbuhan ekonomi di angka 5,3%, BI di angka 5,1%-5,5%, Asian Development Bank di angka 5,3%, World Bank di angka 5,3%, IMF di angka 5,1% dan INDEF di angka 5%. (RBS/WK)

Last Updated on Wednesday, 20 November 2019 17:03
 

Ruang Iklan

Kurs IDR

Kurs Jual Beli
sumber: KlikBCA.com

Sentra Download ASOHI

Calculator

more...

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1856
mod_vvisit_counterYesterday2219
mod_vvisit_counterThis week4075
mod_vvisit_counterThis month26872
mod_vvisit_counterAll2331679